Selasa, 25 Maret 2008

Klasifikasi Kata Kerja Operasional

Klasifikasi Kata Kerja Operasional Sesuai dengan Tingkat Berpikir

Berhubungan dengan mencari keterangan (dealing with retrieval)

1. Menjelaskan (describe)

2. Memanggil kembali (recall)

3. Menyelesaikan / menyempurnakan (complete)

4. Mendaftarkan (list)

5. Mendefinisikan (define)

6. Menghitung (count)

7. Mengidentifikasi (identify)

8. Menceritakan (recite)

9. Menamakan (name)

Memproses (processing):

1. Mengsintesisikan (synthesize)

2. Mengelompokkan (group)

3. Menjelaskan (explain)

4. Mengorganisasikan (organize)

5. Meneliti /melakukan eksperimen (experiment)

6. Membuat analog (make analogies)

7. Mengurutkan (sequence)

8. Mengkategorisasikan (categorize)

9. Menganalisis (analyze)

10.Membandingkan (compare)

11. Mengklasifikasi (classify)

12. Menghubungkan (relate)

13. Membedakan (distinguish)

14. Menyatakan sebab-sebab (state causality)

Menerapkan dan Mengevaluasi

1. Menerapkan suatu prinsip (applying a principle)

2. Membuat model (model building)

3. Mengevaluasi (evaluating)

4. Merencanakan (planning)

5. Memperhitungkan / meramalkan kemungkinan (extrapolating)

6. Meramalkan (predicting)

7. Menduga / Mengemukan pendapat / mengambil kesimpulan (inferring)

8. Meramalkan kejadian alam /sesuatu (forecasting)

9. Menggeneralisasikan (generalizing)

10.Mempertimbangkan /memikirkan kemungkinan-kemungkinan(speculating)

11. Membayangkan /mengkhayalkan (Imagining)

12.Merancang (designing)

13.Menciptakan (creating)

14. Menduga /membuat dugaan/kesimpulan awal (hypothezing)


Kata Kerja Operasional

sesuai dengan Karakteristik Obyek (Matapelajaran)

1. Perilaku yang Kreatif

a. Mengubah (alter)

b. Menanyakan (ask)

c. Mengubah (change)

d. Merancang (design)

e. Menggeneralisasikan (generalize)

f. Memodifikasi (modify)

g. Menguraikan dengan kata-kata sendiri (paraphrase)

h. Meramalkan (predict)

i. Menanyakan (question)

j. Menyusun kembali (rearrange)

k. Mengkombinasikan kembali (recombine)

l. Mengkonstruk kembali (reconstruct)

m. Mengelompokkan kembali (regroup)

n. Menamakan kembali (rename)

o. Menyusun kembali (reorder)

p. Mengorganisasikan kembali (reorganize)

q. Mengungkapkan kembali (rephrase)

r. Menyatakan kembali (restate)

s. Menyusun kembali (restructure)

t. Menceritakan kembali (retell)

u. Menuliskan kembali (rewrite)

v. Menyederhanakan (simplify)

w. Mengsintesis (synthesize)

x. Mengsistematiskan (systematize)

2. Perilaku-perilaku Kompleks, Masuk Akal, dan bisa mengambil /pertimbangan /keputusan (complex, logical, judgmental behaviors)

a. Menganalisis (analyze)

b. Menghargai (appraise)

c. Menilai (assess)

d. Mengkombinasikan (combine)

e. Membandingkan (compare)

f. Menyimpulkan (conclude)

g. Mengkontraskan (contrast)

h. Mengkritik (critize)

i. Menarik kesimpulan (deduce)

j. Membela/mempertahankan (defend)

k. Menunjukkan / menandakan (designate)

l. Menentukan (determine)

m. Mencari /menjelajah (discover)

n. Mengevaluasi (evaluate)

o. Merumuskan (formulate)

p. Membangkitkan/menghasilkan /menyebabkan (generate)

q. Membujuk/menyebabkan (induce)

r. Menduga/Mengemukan pendapat/mengambil kesimpulan (infer)

s. Merencanakan (plan)

t. Menyusun (structure)

u. Menggantikan (substitute)

v. Menyarankan (suggest)

3. Perilaku-perilaku yang Membedakan-bedakan secara umum (General Discrimination behaviors)

a. Memilih (choose)

b. Mengumpulkan (collect)

c. Mendefinisikan (define)

d. Menjelaskan sesuatu (describe)

e. Mendeteksi (detect)

f. Membedakan antara 2 macam (differentiate)

g. Membedakan/Memilih-milih (discriminate)

h. Membedakan sesuatu (distinguish)

i. Mengidentifikasi (identify)

j. Mengindikasi (indicate)

k. Mengisolasi (isolate)

l. Mendaftarkan (list)

m. Memadukan (match)

n. Meniadakan (omit)

o. Mengurutkan (order)

p. Mengambil (pick)

q. Menempatkan (place)

r. Menunjuk (point)

s. Memilih (select)

t. Memisahkan (separate)

4. Perilaku-perilaku Sosial

a. Menerima (accept)

b. Mengakui/menerima sesuatu (admit)

c. Menyetujui (agree)

d. Membantu (aid)

e. Membolehkan/menyediakan/ memberikan (allow)

f. Menjawab (answer)

g. Menjawab/mengemukakan pendapat dengan alasan-alasan (argue)

h. Mengkomunikasikan (communicate)

i. Memberi pujian/ mengucapkan selamat (compliment)

j. Menyumbang (contribute)

k. Bekerjasama (cooperate)

l. Berdansa (dance)

m. Menolak /menidaksetujui (disagree)

n. Mendiskusikan (discuss)

o. Memaafkan (excuse)

p. Memaafkan (forgive)

q. Menyambut/ menyalami (greet)

r. Menolong/membantu (help)

s. Berinteraksi/melakukan interaksi (interact)

t. Mengundang (invite)

u. Menggabung (joint)

v. Menertawakan (laugh)

w. Menemukan (meet)

x. Berperanserta (participate)

y. Mengizinkan/membolehkan (permit)

z. Memuji-muji (praise)

aa. Bereaksi (react)

ab. Menjawab/menyahut (reply)

ac. Tersenyum (smile)

ad. Berbicara (talk)

ae.Berterimakasih (thank)

af. Berkunjung (visit)

ag.Bersukarela (volunteer)

5. Perilaku-perilaku berbahasa

a. Menyingkat/memendekkan (abbreviate)

b. Memberi tekanan pada sesuatu /menekankan (accent)

c. Mengabjad/menyusun menurut abjad (alphabetize)

d. Mengartikulasikan/ mengucapkan kata-kata dengan jelas (articulate)

e. Memanggil (call)

f. Menulis dengan huruf besar (capitalize)

g. Menyunting (edit)

h. Menghubungkan dengan garis penghubung (hyphenate)

i. Memasukkan (beberapa spasi) /melekukkan (indent)

j. Menguraikan / memperlihatkan garis bentuk/ menggambar denah atau peta (outline)

k. Mencetak (print)

l. Mengucapkan/melafalkan/ menyatakan (pronounce)

m. Memberi atau membubuhkan tanda baca (punctuate)

n. Membaca (read)

o. Mendeklamasikan/ membawakan/menceritakan (recite)

p. Mengatakan (say)

q. Menandakan (sign)

r. Berbicara (speak)

s. Mengeja (spell)

t. Menyatakan (state)

u. Menyimpulkan (summarize)

v. Membagi atas suku-suku kata (syllabicate)

w. Menceritakan (tell)

x. Menerjemahkan (translate)

y. Mengungkapkan dengan kata-kata (verbalize)

z. Membisikkan (whisper)

aa. Menulis (write)

6. Perilaku-perilaku Musik

a. Meniup (blow)

b. Menundukkan kepala (bow)

c. Bertepuk (clap)

d. Menggubah /menyusun (compose)

e. Menyentuh (finger)

f. Memadankan/berpadanan (harmonize)

g. Menyanyi kecil/bersenandung (hum)

h. Membisu (mute)

i. Memainkan (play)

j. Memetik (misal gitar) (pluck)

k. Mempraktikkan (practice)

l. Menyanyi (sing)

m. Memetik/mengetuk-ngetuk (strum)

n. Mengetuk (tap)

o. Bersiul (whistle)

7. Perilaku-perilaku Fisik

a. Melengkungkan (arch)

b. Memukul (bat)

c. Menekuk/melipat/ membengkokkan (bend)

d. Mengangkat/membawa (carry)

e. Menangkap (catch)

f. Mengejar/memburu (chase)

g. Memanjat (climb)

h. Menghadap (face)

i. Mengapung (float)

j. Merebut/menangkap/ mengambil (grab)

k. Merenggut/memegang/ menyambar/merebut (grasp)

l. Memegang erat-erat (grip)

m. Memukul/menabrak (hit)

n. Melompat/meloncat (hop)

o. Melompat (jump)

p. Menendang (kick)

q. Mengetuk (knock)

r. Mengangkat/mencabut (lift)

s. Berbaris (march)

t. Melempar/memasangkan/ memancangkan/menggantungkan (pitch)

u. Menarik (pull)

v. Mendorong (push)

w. Berlari (run)

x. Mengocok (shake)

y. Bermain ski (ski)

z. Meloncat (skip)

aa. Berjungkirbalik (somersault)

ab. Berdiri (stand)

ac.Melangkah (step)

ad.Melonggarkan/merentangkan (stretch)

ae. Berenang (swim)

af. Melempar (throw)

ag. Melambungkan/melontarkan (toss)

ah.Berjalan (walk)

8. Perilaku-perilaku Seni

a. Memasang (assemble)

b. Mencampur (blend)

c. Menyisir/menyikat (brush)

d. Membangun (build)

e. Mengukir (carve)

f. Mewarnai (color)

g. Mengkonstruk/ membangun(construct)

h. Memotong (cut)

i. Mengoles (dab)

j. Menerangkan(dot)

k. Menggambar (draw)

l. Mengulang-ulang/melatih (drill)

m. Melipat (fold)

n. Membentuk (form)

o. Menggetarkan/memasang (frame)

p. Memalu (hammer)

q. Menangani (handle)

r. Menggambarkan (illustrate)

s. Mencair (melt)

t. Mencampur (mix)

u. Memaku (nail)

v. Mengecat (paint)

w. Melekatkan/menempelkan/ merekatkan (paste)

x. Menepuk (pat)

y. Menggosok (polish)

z. Menuangkan (pour)

aa. Menekan (press)

ab. Menggulung (roll)

ac.Menggosok/ menyeka(rub)

ad.Menggergaji (saw)

ae. Memahat (sculpt)

af. Menyampaikan/melempar (send)

ag. Mengocok (shake)

ah. Membuat sketsa (sketch)

ai. Menghaluskan (smooth)

aj. Mengecap/menunjukkan (stamp)

ak. Melengketkan (stick)

al. Mengaduk (stir)

am.Meniru/menjiplak (trace)

an. Menghias/memangkas (trim)

ao. Merengas/memvernis (varnish)

ap. Menyeka/menghapuskan/ membersihkan (wipe)

aq. Membungkus (wrap)

9. Perilaku-perilaku Drama

a. Berakting/berperilaku (act)

b. Menjabat/mendekap/ menggengam (clasp)

c. Menyeberang/melintasi/ berselisih (cross)

d. Menunjukkan/mengatur/ menyutradarai (direct)

e. Memajangkan (display)

f. Memancarkan (emit)

g. Memasukkan (enter)

h. Mengeluarkan (exit)

i. Mengekspresikan (express)

j. Meniru (imitate)

k. Meninggalkan (leave)

l. Menggerakkan (move)

m. Berpantomim/Meniru gerak tanpa suara (pantomime)

n. Menyampaikan/menyuguhkan/ mengulurkan/melewati(pass)

o. Memainkan/melakukan (perform)

p. Meneruskan/memulai/beralih (proceed)

q. Menanggapi/menjawab/ menyahut (respond)

r. Memperlihatkan/Menunjukkan (show)

s. Mendudukkan (sit)

t. Membalik/memutar/ mengarahkan/mengubah/ membelokkan (turn)

10. Perilaku-perilaku Matematika

a. Menambah (add)

b. Membagi dua (bisect)

c. Menghitung/mengkalkulasi (calculate)

d. Mencek/meneliti (check)

e. Membatasi (circumscribe)

f. Menghitung/mengkomputasi (compute)

g. Menghitung (count)

h. Memperbanyak (cumulate)

i. Mengambil dari (derive)

j. Membagi (divide)

k. Memperkirakan (estimate)

l. Menyarikan/menyimpulkan (extract)

m. Memperhitungkan (extrapolate)

n. Membuat grafik (graph)

o. Mengelompokkan (group)

p. Memadukan/mengintegrasikan (integrate)

q. Menyisipkan/menambah (interpolate)

r. Mengukur (measure)

s. Mengalikan/memperbanyak (multiply)

t. Menomorkan (number)

u. Membuat peta (plot)

v. Membuktikan (prove)

w. Mengurangi (reduce)

x. Memecahkan (solve)

y. Mengkuadratkan(square)

z. Mengurangi (substract)

aa. Menjumlahkan (sum)

ab. Mentabulasi (tabulate)

ac.Mentally (tally)

ad.Memverifikasi (verify)

11. Perilaku-perilaku Sains

a. Menjajarkan (align)

b. Menerapkan (apply)

c. Melampirkan (attach)

d. Menyeimbangkan (balance)

e. Mengkalibrasi (calibrate)

f. Melaksanakan (conduct)

g. Menghubungkan (connect)

h. Mengganti (convert)

i. Mengurangi (decrease)

j. Mempertunjukkan/ memperlihatkan (demonstrate)

k. Membedah (dissect)

l. Memberi makan (feed)

m. Menumbuhkan (grow)

n. Menambahkan/meningkatkan (increase)

o. Memasukkan/menyelipkan (insert)

p. Menyimpan (keep)

q. Memanjangkan (lenghthen)

r. Membatasi (limit)

s. Memanipulasi (manipulate)

t. Mengoperasikan (operate)

u. Menanamkan (plant)

v. Menyiapkan (prepare)

w. Menghilangkan (remove)

x. Menempatkan (replace)

y. Melaporkan (report)

z. Mengatur ulang (reset)

aa. Mengatur (set)

ab. Menentukan/menetapkan (specify)

ac. Meluruskan (straighten)

ad. Mengukur waktu (time)

ae. Mentransfer (transfer)

af. Membebani/memberati (weight)

12. Perilaku-perilaku Penampilan Umum, Kesehatan, dan Keamanan

a. Mengancingi (button)

b. Membersihkan (clean)

c. Menjelaskan (clear)

d. Menutup (close)

e. Menyikat/menyisir(comb)

f. Mencakup (cover)

g. Mengenakan/menyarungi (dress)

h. Minum (drink)

i. Makan (eat)

j. Menghapus (eliminate)

k. Mengosongkan (empty)

l. Mengetatkan/melekatkan (fasten)

m. Mengisi/memenuhi/melayani /membuat (fill)

n. Melintas/berjalan (go)

o. Mengikat tali/menyusuri (lace)

p. Menumpuk/menimbun (stack)

q. Berhenti (stop)

r. Merasakan (taste)

s. Mengikat/membebat (tie)

t. Tidak mengancingi (unbutton)

u. Membuka/menanggalkan (uncover)

v. Menyatukan (unite)

w. Membuka(unzip)

x. Menunggu (wait)

y. Mencuci (wash)

z. Memakai (wear)

aa. Menutup (zip)

13. Perilaku-perilaku Lainnya

a. Bertujuan (aim)

b. Mencoba (attempt)

c. Memulai (begin )

d. Membawakan (bring )

e. Mendatangi (come )

f. Menyelesaikanmemenuhi (complete)

g. Mengkoreksi/membenarkan (correct)

h. Melipat (crease)

i. Memeras buah/ menghancurkan (crush)

j. Mengembangkan (develop)

k. Mendistribusikan (distribute)

l. Melakukan (do)

m. Menjatuhkan (drop)

n. Mengakhiri (end)

o. Menghapus (erase)

p. Memperluas (expand)

q. Memperpanjang (extend)

r. Merasakan (feel)

s. Menyelesaikan (finish)

t. Menyesuaikan/ memadankan(fit)

u. Memperbaiki (fix)

v. Mengibas/melambungkan/ menjentik (flip)

w. Mendapatkan (get)

x. Memberikan (give)

y. Menggiling/ memipis/ mengasah (grind)

z. Membimbing /memandu (guide)

aa. Memberikan menyampaikan (hand)

ab. Menggantung (hang)

ac. Menggenggam/ memegang(hold)

ad. Mengail/memancing/menjerat /mengait (hook)

ae. Memburu (hunt)

af. Memasukkan/melibatkan (include)

ag. Memberitahu (inform)

ah. (keneel)

ai. Meletakkan/memasang (lay)

aj. Memimpin (lead)

ak. Meminjam (lend)

al. Membiarkan/memperkirakan (let)

am.Menyalakan/menerangi (light)

an. Membuat (make)

ao. Memperbaiki/menambal (mend)

ap. Tidak mengena/ tidak paham (miss)

aq. Menawarkan (offer)

ar. Membuka (open)

as. Membungkus/mengepak (pack)

at. Membayar (pay)

au. Mengupas/menguliti (peel)

av. Menyematkan/menjepit/ menggantungkan (pin)

aw.Menempatkan/mengatur posisi (position)

ax. Menyajikan/memperkenalkan (present)

ay. Menghasilkan (produce)

az. Mengusulkan (propose)

ba. Menyediakan (provide)

bb. Meletakkan (put)

bc. Mengangkat/membangkitkan (raise )

bd. Menghubungkan (relate)

be. Memperbaiki (repair)

bf. Mengulang (repeat)

bg. Mengembalikan (return)

bh. Mengendarai (ride)

bi. Menyobek/mengoyakkan (rip)

bj. Menyelamatkan (save)

bk. Menggaruk/menggores (scratch)

bl. Mengirim (send)

bm.Melayani/memberikan (serve)

bn. Menjahit (sew)

bo. Membagi (share)

bp. Menajamkan (sharpen)

bq. Menembak (shoot)

br. Memperpendek (shorten)

bs. Menyekop/menyodok (shovel)

bt. Menutup/membuang (shut)

bu.Menandakan/mengartikan / memberitahu (signify)

bv.Meluncur (slide)

bw.Menyelipkan (kertas) (slip)

bx.Membentangkan / menyebarkan (spread)

by. Memancangkan/ mempertaruhkan (stake)

bz. Memulai (start)

ca.Menyimpan (store)

cb.Memukul/menabrak/ menyerang (strike)

cc.Memasok (supply)

cd. Mendukung (support)

ce. Mengganti (switch)

cf. Mengambil (take)

cg. Merobek/mengoyak (tear)

ch. Menyentuh (touch)

ci. Mencoba (try)

cj. Memintal/memilin/menjalin (twist)

ck. Mengetik (type)

cl. Menggunakan (use)

cm.Memilihmemberi suara (vote)

cn.Memperhatikan/menonton (watch)

co. Menenun/menganyam/ merangkai/menyelip (weave)

cp. Mengerjakan (work)



Kamis, 13 Maret 2008

FORMAT ISIAN UNTUK MENYUSUN PTK

FORMAT ISIAN UNTUK LATIHAN

Merancang Usulan Penelitian Pembelajaran

1. Nama : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Pengajar pada : ………………………………………………………………….

2. Tuliskan dua rumusan penelitian di bidang pembelajaran yang berhubungan dengan

a) tindakan untuk peningkatan/perbaikan pembelajaran, dan b) hubungan antar variable.

a) Adakah peningkatan pada :

…………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………

Sehubungan dengan dilakukan tindakan :

………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………….

Pada : …………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………

b) sejauh mana (seberapa besar) hubungan antara :(variable 1)

..........................................................................................................................

dengan :(variable 2)

……………………………………………………………………………….

3. Tuliskan 3 (tiga) alas an mengapa Bapak/Ibu mempertanyakan/mengkaji hal-hal diatas :

1………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………….


2…………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………….

3…………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………

4. Tuliskan tujuan dan manfaat yang akan dicapai/diperoleh dengan adanya kajian tersebut :

a. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mendapatkan :

………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………….

b. Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil kajian ini adalah :

…………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………

5. Tuliskan dugaan jawaban Bapak/Ibu terhadap pertanyaan diatas:

  1. terdapat peningkatan :

.......................................................................................................................

.......................................................................................................................

sehubungan dengan adanya tindakan :

..............................................................................................................................

.............................................................................................................................

  1. terdapat hubungan yang kuat antara (variabel 1):

..........................................................................................................................

..........................................................................................................................

dengan (variabel 2):

............................................................................................................................

..............................................................................................................................

6. Untuk menduga jawaban diatas, tentunya Bapak/Ibu mengacu kepada teori. Tuliskan 3 (tiga) teori yang Bapak/Ibu ingat hubungan dengan subyek/obyek kajian yang Bapak/Ibu lakukan

Teori pertama: (ttg Variabel 1)

Teori kedua: (ttg Variabel 2)

Teori ketiga: (ttg hubungan antar variabel)


7. Jelaskan variabel penelitian melalui tabel dibawah ini :

( buatlah tabel tentang variabel: nama/jenis variabel, satuan ukurannya, instrumen yang dipakai untuk menggali data/variabel)

8.Tuliskan secara singkat rancangan langkah kerja dalam mengumpulkan data :

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Format ini setidaknya dapat dipakai untuk memberi arah dalam membuat rancangan sebuah Penelitian Tindakan Kelas.

Kunci utama untuk membuka jalan menuju sebuah PTK adalah merumuskan masalah yakni masalah yang timbul dan dirasakan mengganggu jalannya proses pembelajaran di kelas.

Benarkah Guru Membodohi Anak Bangsa?

Bersama ini saya persembahkan sebuah goresan pena dari "SERAMBI" untuk jadi bahan kajian dan renungan bersama :

09/03/2006 10:19 WIB

Benarkah Guru Membodohi Anak Bangsa?

[ penulis: D Kemalawati | topik: Pendidikan ]

Suatu pagi seorang anak berlari-lari kecil di pematang sawah. Di ketiaknya terkepit dua buah buku. Di saku bajunya yang kusam sepucuk pinsil yang ujungnya tak runcing menyembul keluar. Dengan terengah-engah sampailah anak itu ke sebuah tempat, di mana telah berkumpul puluhan anak sebaya dengannya dan beberapa orang dewasa.

Tanpa upacara bendera atau senam pagi, anak-anak itu mulai belajar. Suasana pedesaan yang hening pecah oleh bacaan: “ini ibu Budi, ini ayah Budi” dan seperti embun membasahi kakinya saat berlarian di pematang, bacaan itu melekat di kepala anak-anak kecil yang ceria itu.

Dua puluh tahun kemudian, anak kecil tersebut telah menggunakan sepatu mengkilat dan mengendarai mobil mewah melaju kencang ke gedung megah di kota ini. Hari ini, dia bukan lagi anak kecil yang dulu dibimbing tangannya untuk menulis huruf ’a‘, bukan lagi anak kecil yang mati-matian membenarkan perkatan gurunya. Karena semua perkataan guru baginya adalah kepintaran. Hari ini dia mungkin meyakini keberhasilannya adalah karena kepintaran gurunya dan usahanya sendiri.

Tidak seorangpun bisa membantah bahwa kita semua pernah berguru. Karena dalam hidup ini ilmu itu tak datang dengan sendirinya. Allah menurunkan wahyunya kepada Rasul-rasulnya melalui Malaikat. Rasul-rasul yang berkapasitas sebagai teladan telah menjadi guru bagi umatnya. Dan guru, layak tidak layak memang harus dihargai. Tentu penghargaan itu bukan hanya dengan kata-kata, atau sebuah cendera mata, ataupun lencana. Guru harus dihargai dengan memberikan fasilitas yang sesuai dengan pekerjaannya yaitu mencerdaskan anak-anak bangsa. Tapi guru bukan malaikat yang tak pernah salah menyampaikan wahyu. Guru adalah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Suatu hasil kajian tentang guru telah membuat seorang Wakil Kepala Dinas Pendidikan NAD Drs Anas M Adam MPd berani menyimpulkan bahwa: seorang guru yang tak berkualitas, kalau diangkat pada usia 25 tahun dan pensiun pada usia 65 tahun, maka yang bersangkutan terus membodohi siswanya selama 40 tahun. “Kalau tiap tahun dia mengajar dua kelas (60 orang), maka selama hayatnya dia akan membodohkan 2.400 siswa dan Negara juga mengalami kerugian karena gaji yang dikeluarkan bukan untuk mencerdaskan anak bangsa, tetapi justru membodohkan anak bangsa”.(Serambi Indonesia, Minggu 5 Maret 2006). Ini tentu sangat menohok guru yang telah bekerja puluhan tahun lamanya dan telah ikut mencerdaskan bapak-bapak yang sedang menjadi pejabat saat ini. Mungkin diantara pejabat yang sedang `naik daun‘ sekarang pernah diajarkan oleh guru yang sebenarnya tak berkualitas dan tak layak mengajar.

Mungkin benar 50 persen atau bahkan lebih dari itu, guru di Aceh tidak layak mengajar. Karena ini merupakan kajian yang tentu bukan dikerjakan asal-asalan oleh staf pengajar FKIP Unsyiah (kecuali bagi oknum yang membuat penelitian untuk mencairkan dana proyek). Tapi apakah dengan demikian seorang pak Anas harus menohok guru-guru layaknya beliau berasal dari lingkungan lain yang tak ada sangkut-pautnya dengan guru. Bukankah Bapak salah seorang pengambil kebijakan atas berbagai kepentingan untuk meningkatkan mutu guru. Apa yang Bapak lakukan selama memimpin dinas pendidikan, sehingga 50 persen guru tidak layak untuk mengajar dan telah membodohi setengah dari pelajar di daerah ini.

Juga FKIP, setelah adanya hasil kajian yang mencoreng almamater itu , kebijakan apa yang telah dilakukan. Apakah pola mengajar para dosen masih mengandalkan asisten dan membiarkan mereka dengan pengalaman yang seadanya lalu dengan berbagai alasan terbang ke kelas yang jauh, menitipkan debu-debu lalu mengajaknya berkicau bersama. Ataukah hanya mengirim sekian banyak tenaga pengajarnya untuk melanjutkan pendidikannya, kemudian pulang tapi tak merobah keadaan. Apakah dengan perangkat uji yang sama mereka pernah diuji untuk membuktikan layak tidaknya mereka meluluskan calon guru?

Sayang sekali, kesalahan hanya ditimpakan pada guru. Lalu seolah-olah guru bisa saja menerima hal ini dengan pantas. Sungguh sebenarnya ini sangat pahit diterima. Saya juga seorang guru. Mungkin saya termasuk salah satu dari yang tak layak itu. tapi benarkah saya telah membodohi murid-murid saya? Saya sangat-sangat keberatan tentang hal ini. Boleh saja salah satu materi kurang saya kuasai tapi masih banyak materi lain yang telah saya kuasai apalagi jam terbang saya sebagai guru telah sangat banyak.

Siapakah anak yang berlari-lari kecil di pematang sawah puluhan tahun yang lalu pada pembuka tulisan ini. Sebut saja dia pak Aminullah yang kini memimpin BPD NAD. Beliau datang dari kesejukan sungai Woyla jauh di pedalaman Aceh Barat. Beliau juga hanya lulusan SMEP Meulaboh dan berani mengambil resiko merantau menuntut ilmu. Hari ini, beliau menjadi orang nomor satu di bank milik daerah ini, tentu setelah belajar dan berguru pada orang yang disebut guru. Padahal mungkin saja guru yang mengajar beliau di SD tak pernah mengenyam pendidikan guru.

Bagaimana dengan guru-guru sekarang, yang sudah mengenyam pendidikan guru. Kenapa mereka menjadi tak layak mengajar seperti apa yang dikaji oleh kalangan FKIP. Adakah yang salah dengan sistem yang diberlakukan sehingga berbagai ketimpangan jatuh ke pundak guru.

Dengan berbagai dalih untuk kepentingan guru, berbagai program memang telah diupayakan dinas pendidikan. Bahkan beberapa tahun sebelum terjadinya musibah tsunami dinas pendidikan telah mengirimkan guru-gurunya ke luar negeri yang biayanya jauh lebih mahal dari pada mengontrak tenaga ahli itu untuk datang ke daerah ini dan memberikan ilmunya kepada lebih banyak guru di sini. Pernah terpikir oleh kami yang awam ini , apakah tak ada tenaga profesional di kampus Unsyiah sehingga guru-guru harus dikirim belajar ke luar negeri. Atau apakah itu merupakan hadiah bagi guru-guru yang telah lulus seleksi agar lebih bergairah dalam mengajar.

Pengalaman guru-guru yang dikirim keluar negeri beberapa angkatan selalu sangat memprihatinkan, baik selama dalam masa pelatihan maupun setelah kembali dari pelatihan. Mungkin pak Anas ketika mengantar rombongan guru-guru ke pulau Penang bisa sekalian membawa keluarga lalu check up kesehatan di sana terus berpesiar bahkan bisa dengan leluasa berbelanja di Kamdar-kamdar besar. Tapi bagi seorang pak guru, untuk berangkat ke sana harus mencari pinjaman uang untuk belanja anak dan istri yang ditinggal di kampung. Lalu dengan uang saku yang sangat minim mereka memang pernah dibawa berjalan melihat kota Kuala Lumpur, tapi sesampai di sana mereka hanya menjadi bagian orang yang lalu lalang di trotoar tanpa mampu membeli sedikit kenang-kenangan. sebagai tanda mata bagi anak dan istri.

Hal diatas mungkin tak penting bagi Bapak. Karena program itu sudah berjalan dan semua uang proyek sudah ditarik. Tapi kembali lagi yang korban perasaan adalah guru yang telah mendapatkan ilmu. Di samping tak ada yang dapat diterapkan di daerah mereka juga menjadi cibiran teman-temannya karena tak ada yang berobah pada proses belajar mengajar. Mereka masih mengajar secara konvensional. Mungkin Pak Anas sudah mengalihkan untuk satu guru yang pernah belajar di sana akan menjadi pion bagi berapa guru lainnya. Tapi itu tak pernah terjadi di lapangan. Istilahnya tak ada tindak lanjut.

Lalu kalau kita hitung dari jumlah guru yang tersebar di seluruh Aceh, berapa persenkah guru yang pernah mendapat pencerahan setelah menjadi guru. Rasanya kalau untuk menyentuh kepentingan kecerdasan guru sulit sekali mendapat perhatian dari pihak Bapak di Dinas Pendidikan NAD, tapi kalau membangun fisik pastilah menjadi prioritas utama.

Memang, guru bukan lagi sosok yang dihormati. guru juga seperti hidup di negeri tak bertuan. Tak ada yang membela kepentingan guru. Kadangkala guru dianggap sebagai malaikat yang tak butuh kehidupan duniawi. Tidak boleh mengeluh apalagi berontak karena itu tidak sesuai dengan sikap guru. Cukuplah gaji guru seperti sekarang ini.

Tapi kerjaannya harus lebih banyak, harus lebih berkompetensi walau tanpa fasilitas yang mendukung. Guru honor diperlakukan seperti sapi perahan, diperas susunya setiap saat tapi diberi makan 4-6 bulan sekali itupun hanya beberapa kunyahan saja. Dan itu dilakukan bukan untuk membodohi siswa tetapi justru tanpa pamrih ikut mencerdaskan bangsa. Sekarang terserah penilaian Bapak, apakah kami guru yang telah membodohi siswa dan telah merugikan negara atau bapak-bapak yang mengurus kepentingan kami yang telah membodohi kami dan menguntungkan negara.

*) Penulis adalah seorang guru SLTA di Banda Aceh

Bagaimana pendapat Anda ?

Senin, 10 Maret 2008

PELAKSANAAN MBS-MPMBS

Beberapa Catatan dalam Pelaksanaan

Manajemen Berbasis Sekolah

------------------------------oleh Drs. Ahmad Kusasi

Penerapan Konsep.

Pada mulanya adalah adanya konsep Manajemen Berbasis Sekolah sebagai jawaban atas berbagai pertanyaan dan persoalan sekitar terpuruknya mutu pendidikan di negeri kita. Dari MBS lalu berkembang dan semakin dimantapkan menjadi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah ( M P M B S ) sebagai wujud konsern dan komitmen kita terhadap mutu pendidikan.

Dalam pengembangan dan aplikasinya lebih lanjut yang menjadi muaranya adalah Reformasi Sekolah (School Reform). School Reform merupakan suatu konsep perubahan kearah peningkatan mutu dalam konteks MPMBS.

Reformasi sekolah harus mulai diterapkan untuk merespon kondisi pendidikan di tanah air yang dinilai semakin terpuruk. Sekolah seharusnya dapat menangkap momentum otonomi melalui penerapan MPMBS dengan melakukan reformasi diri yang dimulai dengan reformasi terhadap karakter para pengelolanya.

Sebagai wacana/konsep dalam usaha pengelolaan sekolah, pada dasarnya konsep MBS dan MPMBS serta School Reform sudah baik dan lebih dari cukup. Yang menarik untuk dibicarakan dalam forum seminar adalah begaimana penerapan (aplikasi, implementasi) dari berbagai konsep tersebut dengan baik dan benar di lapangan, yaitu di masing-masing sekolah.

MBS / MPMBS adalah suatu model pengelolaan sekolah yang berorientasi kepada mutu, peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, membicarakan MBS / MPMBS “harus” dalam kerangka peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

Kendala-kendala Penerapan MBS/MPMBS di Lapangan.

Pada kenyataannya, terdapat banyak kendala dalam upaya penerapan konsep MBS/MPMBS di lapangan. Beberapa kendala tersebut diantaranya :

Konsepsi, Persepsi dan Interpretasi.

Sangat terasa sekali adanya bias yang cukup besar dari konsep yang disusun oleh para pakar di pusat ketika sampai ke daerah, bahkan ketika mau diterapkan di sekolah. Bias itu terutama terjadi pada tataran pemahaman dan pengembangan konsep tersebut. Tentu saja hal ini sangat mengganggu atas setiap upaya penyusunan program dan penjabaran teknis di lapangan. Hal ini sebagian besar disebabkan lemah/kurangnya sosialisasi/diseminasi terhadap para pengelola sekolah.

Sosialisasi/diseminasi serta pelatihan sangat diperlukan dan diintensipkan, terutama terhadap para pengelola sekolah, untuk menyamakan persepsi dan interpretasi atas berbagai konsep yang dirancang oleh Pusat dan akan diterapkan di daerah/sekolah, terutama Konsep MBS / MPMBS ini. Jika pemahaman berbeda-beda atas suatu konsep tentu sangat menyulitkan untuk menerapkannya secara teknis. Apalagi jika pada tataran middle-management ada yang “terputus” atau malah “error”.

Adanya kesalahan memahami otonomi/kemandirian sekolah misalnya. Otonomi sekolah tidak dapat diartikan sebagai mendapat “kebebasan penuh” atau “dilepas” tali kekangnya. Otonomi sekolah, bagaimanapun, masih tetap diperlukan adanya mekanisme regulasi dan control, terutama oleh Unit Struktural dan Fungsional. Otonomi sekolah dijadikan alasan bagi birokrasi/structural untuk “lepas tangan” --dengan mengatakan: kita ‘kan hanya fasilitator, kita tidak boleh intervensi ke sekolah—mengindikasikan adanya “keterputusan” dan “error” dari manajemen atau struktur dalam memahami dan menerapkan konsep MBS/MPMBS tersebut.

Kesamaan dan Kebersamaan.

MBS adalah suatu ide/konsep dimana kekuasaan pengambilan keputusan yang berkait dengan pendidikan diletakkan pada tempat yang paling dekat dengan proses pembelajaran, yakni sekolah itu sendiri. MPMBS merupakan suatu model manajemen pendidikan yang memberi otonomi lebih besar kepada sekolah untuk mengambil keputusan secara partisipatif dengan melibatkan segenap warga sekolah.

Ini berarti bahwa kekuasaan/kewenangan dan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan untuk peningkatan mutu sekolah didesentralisasikan kepada warga sekolah dan steakholder.

Sering terjadi, di kalangan warga sekolah dan steakholder, muncul ketidaksamaan dalam memahami dan menyikapi berbagai aspek dan persoalan yang ada dan timbul di sekolah. Ketika “perbedaan” ini tidak diselesaikan dan dibiarkan berlarut-larut –seolah-olah tidak masalah—maka pada akhirnya sekolah itu sendiri yang akan mengalami kerugian.

Sering juga terjadi tidak ada kerjasama yang harmonis diantara mereka dalam mengemban misi dan program sekolah yang mengakibatkan sekolah tidak akan maju-maju.

Makro dan Mikro dalam Sistem.

Dalam proses peningkatan mutu pendidikan “sekolah” adalah sebuah system, karena itu sering dikatakan “sekolah sebagai sebuah system”. Dalam system sekolah, MBS/MPMBS adalah sub-system, disamping sub-system yang lainnya seperti: PBM, Administrasi, Monitoring dll.

Dalam sebuah system (yang besar) sub-sub-sistem adalah juga sebuah system (yang kecil) dengan sistemnya sendiri. Kerja sebuah system sangat ditentukan oleh kerja sub-sistem dan “tersistem”.

Selama ini, sudahkah semua sub-sistem telah berfungsi dengan benar dan lancar ? Satu saja dari sub-sistem yang tidak benar atau tidak lancar tentu sangat mengganggu kerja system secara keseluruhan.

Selama ini, sudahkah kerja/fungsi sub-sub-sistem benar-benar tersistem ? Satu saja dari sub-sistem yang terlepas dari rangkaiannya akan rusaklah system itu secara keseluruhan. Juga system tak akan dapat berjalan dengan baik jika sub-sub-sistem berjalan/bekerja sendiri-sendiri dan tidak tersistem.

Reformasi Sekolah : Sebuah Kerangka Kerja.

School Reform adalah muara dari MBS/MPMBS yang berorientasi pada mutu. School Reform adalah suatu konsep perubahan (perubahan terkonsep) kearah peningkatan mutu dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah. Perubahan (yang terkonsep) itu hendaklah terpadu terukur dan terprogram.

Reformasi Sekolah terjadi pada 3 level :

1. Level Kelas (regulasi) yang merupakan representasi dari karakter pembelajaran di kelas.

2. Level Mediator (profesi) yang merupakan representasi dari karakter professional pengelola sekolah.

3. Level Sekolah (manajemen) yang merupakan representasi dari karakter kolektif warga sekolah / iklim sekolah.

Starting Point atau factor strategis dalam school-reform adalah reformasi terhadap karakter para pengelolanya melalui pembinaan professional tenaga kependidikan. Tanpa ini, kemajuan hanya semu.

Banjarbaru, Februari 2008

AHMAD KUSASI

Widyaiswara LPMP Kalimantan Selatan

Minggu, 09 Maret 2008

DICARI GURU UNTUK SEKOLAH DASAR

DICARI: CALON GURU UNTUK SEKOLAH DASAR

PENGANTAR

Soal rendahnya mutu pendidikan sudah terlalu banyak dibicarakan. Hal ini tidak usah diperdebatkan lagi. Dan memang bukan untuk sekedar diperdebatkan. Yang perlu dipikirkan dan diusahakan bersama adalah bagaimana caranya mengangkat mutu pendidikan yang dikatakan ’terpuruk’ itu.

Dalam kehidupan di masyarakat hidup berbagai pandangan/anggapan/persepsi yang nadanya terasa sumbang bagi pelaku-pelaku pendidikan, terutama guru-guru yang diambung sebagai ’pahlawan’ tapi dianggap tidak berjasa sehingga populer dengan istilah pahlawan tanpa tanda jasa. Yang Pertama: Apabila ada anak yang berhasil, sukses, berprestasi, menjadi juara, orangtuanya akan tepuk dada, ”siapa dulu bapak/ibunya”. Tetapi bila ada anak yang terpuruk, gagal, tidak berhasil naik/lulus, telunjuk tertuding ke muka guru, ”bagaimana sih guru mengajar”, atau ”inilah, kalau guru tidak profesional”. Yang Kedua: Sekolah Dasar (SD) adalah sekolah rendah. Rendah dalam status, rendah dalam tingkatan, dan rendah dalam penghargaan. Setiap orangtua bersedia menyumbang banyak-banyak untuk SMA atau Perguruan Tinggi. Adapun untuk SD, menghadiri rapat sekolah setahun sekali saja banyak yang malas. Bahkan, (dulu) tunjangan fungsional guru diukur berdasarkan jenjang sekolah, dan guru SD mendapat tunjangan yang paling sedikit.

Menyadari dampak negatif dari anggapan tersebut kita berusaha untuk menata dengan baik Sekolah Dasar dan berusaha terus menerus meningkatkan profesionalisme guru-gurunya.

SEKOLAH DASAR, DASARNYA SEKOLAH

Ketika mulai berbicara tentang ”rendahnya mutu pendidikan” itu berarti rendahnya mutu sekolah, karena sesungguhnya mutu pendidikan muncul dari sekolah-sekolah yang bermutu. Ketika disinggung tentang mutu sekolah maka yang muncul adalah logika apologetik begini: Ketika muncul fenomena banyaknya sarjana pengangguran (pengangguran intelek) orang akan mengatakan bahwa Perguruan Tinggi yang belajar di dalamnya mengeluarkan biaya banyak ternyata menghasilkan sarjana yang tak bisa apa-apa, bukannya sarjana yang apa saja bisa. Orang Perguruan Tinggi akan membalas: Habis, kami juga menerima dari lulusan SLTA yang berkualitas rendah. Pengelola SLTA tentu tak mau kalah, mereka akan berkata: Memang dari SLTPnya sudah begitu. Nah, orang-orang SLTP akan melempar tuduhan kepada SD. Adapun guru-guru SD mau melempar kemana. Guru-guru SD mau bilang apa.

Ini hanyalah sebuah illuistrasi yang akstreem, abstrak, dan cuma guyon. Tanpa bermaksud untuk menyalahkan siapa-siapa, saya hanya ingin mengatakan bahwa Sekolah Dasar (SD) adalah sekolah yang Dasar, tempat bertumpu untuk anak meraih prestasi di sekolah-sekolah jenjang berikutnya. Apabila penataan dan pembentukan di dasar baik dan mantap, tentu menjadi ’mudah’ bagi anak untuk meraih keberhasilan di jenjang berikutnya. Akan tetapi apabila dasar ini dibengkalaikan atau terbengkalai maka mudahlah ditebak apa yang akan diperoleh di jenjang sekolah yang lebih tinggi, yaitu: tidak ada prestasi apa-apa.

Ada satu issue yang layak untuk kita perhatikan dan cermati. Kita semua tahu dan menyadari sepenuhnya bahwa ’mutu pendidikan’ kita jauh tertinggal dibanding dengan tetangga dan sahabat kita di Asean, Apalagi dibanding dengan negara-negara lain yang jauh lebih maju. Dan –issue itu mengatakan- penyumbang terbesar rendahnya mutu pendidikan/sekolah kita itu adalah Sekolah Dasar. Hal ini terjadi karena SD tersebar sampai ke pelosok-pelosok negeri, dari pinggir-pinggir laut sampai ke puncak-puncak gunung. Ditambah lagi, SD adalah sekolah yang gurunya tidak merata dan mutunyapun tidak merata, makin jauh dari pusat kota, makin kurang gurunya dan makin rendah mutunya. Apalagi di SD berlaku sistem Guru Kelas, artinya pembelajaran dan penyelenggaraan pendidikan di kelas sepenunhnya dipegang oleh satu orang guru. Se”sakti” apapun guru SD, kalau harus menangani berbagai mata pelajaran dalam kesempatan yang bersamaan tentu repot juga. Lebih dari itu, ’repot’nya guru akan sangat mempengaruhi ’raport’ anak, sesuatu yang sangat tidak mengenakkan.

PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

Sebagai sekolah pertama yang dimasuki oleh anak, maka disinilah ia mendapatkan pengalaman pertama bagaimana belajar, bersosial, beretika, dan sebagainya dalam sebuah sekolah. Sebagai ’pengalaman pertama’ tentulah akan memberikan kesan yang kuat dan sangat berarti bagi seseorang dalam kehidupan ini. Lebih dari itu, iklim/kultur, pembiasaan, pembelajaran, pendidikan, pergaulan, yang selama 6 tahun terus menerus menyelimuti kehidupan, niscaya akan dapat membentuk karakter seseorang. Apalagi ”seseorang” itu adalah sang kertas putih yang berada dalam masa peka dan masa pertumbuhan yang sangat pesat. Tak ayal lagi, pembiasaan dan pendidikan Sekolah Dasar akan mewarnai karakter anak secara signifikan dan permanen.

Bertumpu pada assumsi diatas, maka sangat beralasan kalau dikatakan bahwa Sekolah Dasar adalah tempat meletakkan dasar-dasar bagi anak dalam hal bersekolah dan menjadi dasar baginya untuk menjangkau sekolah selanjutnya. Manakala di dasar anak sudah ’baik dan benar’ maka untuk selanjutnya dengan penanganan yang ’bagus’ tentu yang baik akan bertambah baik dan yang benar akan semakin benar. Sebaliknya, jika di dasar anak sudah ’rusak dan salah’ maka untuk selanjutnya tentu sangatlah sukar baginya untuk mengukir prestasi atau mengembangkan potensi dan kreativitas yang memadai.

Sebagai dasar utama untuk menjadi anak yang ’terdidik’, agar dapat menjadi Anak Sekolahan –seperti Si Doel- maka di SD sudah selayaknyalah diberikan dasar-dasar yang kuat agar anak punya kemampuan MEMBACA, MENULIS dan BERHITUNG yang dikenal dengan istilah 3 R (singkatan dari Read, wRite, dan aRithmatic). Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya anak yang belajar di SD haruslah juga diberi dasar yang kuat untuk mampu BERBICARA dan MEMECAHKAN MASALAH. Dan last but not lest anak di SD juga ditata dasar-dasar BERAKHLAK. Jikalau keenam pokok ini ditanamkan dengan kokoh dan dipupuk dengan baik dan teratur sejak di SD kita orang tua boleh merasa tanteram karena langkah-langkah anak selanjutnya insya Allah akan ’aman dan terkendali’.

SIAPA YANG MENJADI ’GURU’ DI SEKOLAH DASAR

Tugas utama guru adalah mendiDIK, mengaJAR, dan melaTIH, disingkat menjadi DIKJARTIH. MENDIDIK dilakoni oleh guru agar anak menjadi pribadi yang ’berakhlak’, dan itu sangat banyak ditentukan melalui proses ’pembimbingan’ dan penerapan ’kultur sekolah’. MENGAJAR dilakukan oleh guru terutama agar anak memiliki kemampuan dasar yang baik dalam hal membaca, menulis, dan berhitung dimana ketiga R ini menjadi indikator utama keberhasilan pembelajaran yang barangkali menjadi dasar munculnya konsep ”Guru Vak” dalam pembelajaran di SD. Adapun MELATIH terutama ditekankan kepada guru agar anak mampu berbicara (termasuk di dalamnya mengemukakan pendapat, berkomunikasi dengan orang lain, berbicara di depan umum, dan yang semacamnya) dan melatih anak untuk memecahkan masalah (hal ini terutama dimaksudkan agar anak tidak ikut-ikutan terseret suka mencari jalan pintas/menerabas, bisanya menggunakan otot dalam menyelesaikan masalah karena tidak terlatih menggunakan otak, atau lari mengambil jalan yang irrasional).

Guru adalah mereka yang memang dipersiapkan berada di garis paling depan, yang setiap saat bertugas berinteraksi dengan murid. Tugas keguruan melambangkan pertemuan antar dua generasi –generasi tua dengan generasi muda- lambang kesinambungan masa lalu dengan masa depan. Gurulah yang diberi kepercayaan untuk menerapkan program kurikuler. Di tangan gurulah –bukan di tangan orang lain- program menjadi hidup, atau . . . . justru mati.

Kalau kita telusuri sejarah pendidikan di Indonesia, kita akan dapati pengetahuan bahwa kualifikasi guru yang mengajar di SD, SLTP, dan SLTA pada jaman penjajahan dan jaman merdeka sampai akhir dekade 1950-an dan permulaan 1960-an jauh di bawah kualifikasi guru pada saat ini. Sampai dengan tahun 1957 pendidikan guru SD adalah Sekolah Guru B (SGB – 4 tahun setelah SD), guru SMP adalah SGA (6 tahun setelah SD atau 3 tahun setelah SMP/SGB kelas III), dan guru SLTA adalah B1 (2 tahun setelah SMA). Setelah tahun 1957 guru SD haruslah lulusan SGA. Pada saat itu Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) belum menghasilkan lulusannya.

Kini terutama sejak tahun 1989 kualifikasi minimum untuk mengisi jabatan guru ditingkatkan, yaitu untuk guru SD adalah Diploma II Kependidikan (2 tahun pasca SLTA), untuk guru SLTP adalah D3 Kependidikan (3 tahun pasca SLTA), dan untuk guru SLTA adalah S1 Kependidikan dan S1 dengan Akta Mengajar (Akta IV).

Pertanyaannya adalah: mengapa pada masa dahulu, guru dengan kualifikasi pendidikan yang jauh lebih rendah dari kualifikasi pendidikan guru pada saat ini dipandang telah berhasil menghasilkan lulusan yang ”bermutu” sedangkan sekarang dengan kualifikasi yang lebih tinggi banyak dipersoalkan mutu dari pendidikan yang dihasilkan.

Salah satu penyebabnya adalah lemahnya pendidikan di Sekolah Dasar. Pendidikan kita lemah pada fondasinya, sehingga sebagus dan sekokoh apapun bangunan yang didirikan diatasnya, tetap saja ’lemah dan mengkhawatirkan’. Kelemahan pendidikan di SD salah satunya disebabkan lemahnya rekrutmen tenaga guru yang akan menjadi ”Pengawal Garis Depan” sekolah-sekolah kita yang menjadi tumpuan bagi sekolah-sekolah selanjutnya.

Sesudah tahun 1965, pasca peristiwa G 30 S / PKI kita merekrut guru SD besar-besaran. Anak bangsa yang pernah sekolah –dan tamat- SD dan punya kemauan untuk mengajar di SD diangkat menjadi CAGUR (calon guru) dan untuk guru agama diadakan UGA (Ujian Guru Agama). Ketika kita mencanangkan Wajib Belajar 6 tahun dan membangun SD secara besar-besaran dalam bentuk SD Inpres, kebutuhan dan kekurangan tenaga guru untuk SD tambah besar. Dalam keadaan yang demikian, untuk rekrutmen tenaga guru yang diperlukan sudah tak mungkin lagi memilih calon guru yang ’mau dan mampu’, sehingga diambillah yang ”mau” saja dahulu –syukur mereka mau- sedangkan ’kemampuan’nya bisa ditangani nanti ketika mereka sudah bertugas, yang penting mereka mau dan ’bisa’ MENGAJAR (sebagian dari tugas/fungsi guru DIKJARTIH).

Memang tugas guru dapat direduksi hanya sebagai pengajar, tetapi dengan demikian ia mengingkari dan melupakan tugasnya yang lebih penting –terutama untuk Sekolah Dasar- adalah sebagai pendidik/pembimbing dan pelatih. Dan memang guru didesain sebagai PENDIDIK/Pembimbing, PENGAJAR, dan PELATIH (DIKJARTIH). Namun dalam kenyataannya, tugas guru yang telah direduksi sebagai ”pemberi mata pelajaran” pun hasilnya sudah semakin tidak memuaskan. Dengan tugas dan kemampuan yang terbatas, guru memang tidak dapat lain kecuali menjadi manusia-serba-terbatas (padahal katanya: Guru SD adalah Guru yang Paling Sakti). Dunianya terbatas pada scope mata pelajaran, tujuannya terbatas pada keberhasilan ebtanas, motivasinya terbatas pada bertahan hidup. Alangkah malangnya nasib bangsa ini kalau ada guru seperti itu; lebih malang lagi kalau banyak guru yang demikian.

Kalau ini sebuah kesalahan tentu awalnya bukanlah pada Guru. Sejak seseorang memasuki profesi keguruan, sudah terdapat berbagai kelemahan. Persepsi Pemerintah dan masyarakat –termasuk persepsi orangtua dan anak didik sendiri- terhadap peran dan posisi guru merosot dan merendah sampai pada tingkat yang mencemaskan. Akibat berantai ialah calon yang berpotensi menjadi guru yang baik mengurungkan niatnya. Karenanya, guru semakin banyak yang berasal dari mereka yang tidak berpeluang memilih pendidikan yang lain, atau yang datang dari lapisan sosial yang semakin rendah. Ini bukan causa prima; ini adalah akibat.

Akibat ini masih berlanjut di dalam lembaga pendidikan guru. Di sini, sifat profesionalisme kelembagaan sudah semakin luntur. Lembaga ini tidak banyak berbeda dengan lembaga yang lain, kecuali bahwa umumnya penampilan dan prestasi lembaga ini lebih buruk. (Bandingkan SPG/SGA dengan SMA/SMK, atau IKIP almarhum dengan Universitas misalnya). Yang dari semula sudah merisaukan ialah program kependidikan yang ditawarkan dalam membangun kefahaman profesi keguruan, bukan ditingkatkan, tetapi justru dihilangkan. Kalau masih ada, ilmu itu dipandang sebagai ilmu bantu, bukan ilmu dasar. Program pembinaan kompetensi profesional –dalam bentuk kemampuan mengajar- hanya bersifat pelengkap, bukan inti. Dengan demikian, setelah sedikit mencicipi praktek mengajar, calon guru segera diberikan brevet kewenangan menjadi guru.

Kompetensi Calon Guru yang dihasilkan oleh Lembaga dan Sistem yang tidak terlalu baik ini, bagi sekolah-sekolah lanjutan dan sekolah-sekolah tinggi –mungkin- tidak terlalu berasa, tapi bagi Sekolah Dasar –sebagai Dasarnya sekolah- sangat berasa ’pahit’nya.

MENYIAPKAN CALON GURU

Tak ada seorangpun yang meragukan, apalagi membantah, bahwa guru merupakan faktor kunci yang paling menentukan dalam keberhasilan pendidikan dinilai dari prestasi belajar siswa. Reformasi apapun yang dilakukan dalam pendidikan, seperti pembaruan kurikulum, penyediaan sarana/prasarana dan penerapan metode mengajar baru, tanpa guru yang ”bermutu” peningkatan mutu pendidikan tidak akan mencapai hasil yang maksimal.

Kenyataan menunjukkan bahwa masih sebagian besar guru underqualified, tingkat penguasaan bahan ajar dan keterampilan dalam menggunakan metode pembelajaran yang inovatif masih sangat kurang. Kondisi seperti ini menambah kecemasan kita menghadapi hari esok yang menuntut adanya guru yang profesional. Tim Penyusun Standar Kompetensi Guru Pemula (SKGP) merumuskan kompetensi guru dalam 4 (empat) rumpun yaitu: (1) Penguasaan Bidang Studi, (2) Pemahaman tentang Peserta Didik, (3) Penguasaan Pembelajaran yang mendidik, dan (4) Pengembangan Kepribadian dan Keprofesionalan.

Untuk mendekati masalah ini, wajar kita melihat mata rantai yang lain, yaitu lembaga yang mendidik guru, lembaga yang bertugas dan berfungsi menyiapkan calon guru. Sebuah hal positif masa lalu yang tidak dapat dibiarkan berlalu begitu saja adalah ini: apabila kita mempertanyakan dimana guru dididik dan dipersiapkan, jawabnya jelas: oleh sebuah lembaga khusus. Lembaganya jelas : sekolah guru. Tugasnya jelas: mendidik calon guru. Programnya jelas: penanaman dan pemantapan jiwa keguruan, nilai keguruan, kebanggaan profesi, dan tentu saja –tetapi tidak semata-mata- bekal-bekal ilmu-ilmu keguruan, dari falsafah pendidikan sampai dengan model mengajar.

Pada zamannya, dan dalam konteks tertentu, pendekatan lembaga itu cukup sehat dan jelas. Dengan bersahaja, guru adalah sebuah vocation, sebuah pekerjaan. Tetapi sekaligus, pekerjaan itu adalah sebuah dedication; sebuah pengabdian. Dengan itu, guru menjadi guru sekaligus menjadi icon keteladanan; karena itu guru dihormati tidak sebagai pengajar, tetapi sebagai pendidik. Kini, kita inginkan tugas guru lebih eksplesit disebut sebuah profession, sebuah pekerjaan dengan keahlian khas. Dimanakah guru-guru profesional ini dididik ? Kemarin masih ada SPG (Sekolah Pendidikan Guru), namun sekarang sudah ’mati’, tapi dimana kuburnya ? Kemaren masih ada IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan), sekarang telah mengalami metamorfose. Untuk menjadi lebih baik, atau sebaliknya ? Sejarah masih harus membuktikan; dan kalau ternyata kondisi keguruan dan persekolahan kita tidak menjadi lebih baik secara signifikan, maka inipun menjadi malapetaka di dalam sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia.

Kita bertolak dari situasi yang normal bahwa seorang guru tentulah berpendidikan sekolah guru, sekolah yang karena terkait pada persiapan pekerjaan tertentu disebut sekolah profesional, yang sebenarnya adalah sejenis sekolah kejuruan. Tetapi lulus dari sekolah tersebut belum langsung menjadikan guru tersebut benar-benar seorang dengan kemampuan profesional. Sejauh ini, dia baru memiliki syarat formal, syarat yang berada pada tingkat dasar dari seluruh syarat-syarat yang diperlukan. Seorang lulusan sekolah guru tentu berpengetahuan keguruan; tetapi tidak ada alasan untuk segera berkesimpulan bahwa dia adalah seorang guru yang ’pasti’ berkemampuan profesional. Perlu disadari bahwa kecuali berkelulusan lembaga pendidikan guru, masih ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki untuk menjadi seorang guru yang profesional, tetapi hanya dapat dikembangkan sesudah pendidikan tahap formal selesai.

Barangkali dengan pertimbangan inilah kenapa Pemerintah menetapkan bahwa guru SD harus berkualifikasi Diploma 2 ( 2 tahun pasca SMA). Padahal yang ”sebenarnya” adalah untuk menjadikan guru yang profesional diperlukan pendidikan lagi paling tidak 2 tahun setelah calon guru itu lulus dari ”Sekolah Guru”. Tapi apa mau dikata, SPG sudah mati karena sampai ajalnya –atau dimatikan sebelum ajal ?- dan itu tak bisa hidup lagi, dan tak boleh hidup lagi.

Barangkali karena besarnya harapan untuk hadirnya sosok guru yang profesional menangani sekolah-sekolah dasar kita agar Sekolah Dasar dapat menjadi Dasar Sekolah selanjutnya, meskipun kita tahu pasti bahwa yang sudah mati itu tak akan hidup lagi, namun di saku ini masih tersisa seberkas harapan: Masih mungkinkah reinkarnasi Sekolah Guru dalam bentuk Sekolah Menengah Kejuruan (jurusan Keguruan) . Wallahu a’lam.

P E N U T U P

Mengantisipasi adanya berbagai ketimpangan dan kelemahan dalam sistem penyelenggaraan program pendidikan guru, khususnya bagi guru Sekolah Dasar, perlu adanya suatu pemikiran dan upaya-upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Pengembangan pendidikan meliputi program pengadaan dan pengembangan tenaga guru. Program pengadaan dan pengembangan tenaga guru ini harus benar-benar diperhatikan secara sungguh-sungguh, karena berhasil tidaknya pembaharuan pendidikan banyak ditentukan oleh faktor guru. Dalam pengadaan dan pengembangan tenaga guru ada dua masalah pokok yang perlu dihadapi yakni pemenuhan tenaga guru yang besar jumlahnya dan peningkatan kualitas profesional guru yang belum memenuhi standar minimal.

Untuk keberhasilan pembaharuan pendidikan, bukan saja ditentukan oleh cukup tidaknya tenaga guru tetapi juga kualitasnya. Apa artinya jumlah guru yang cukup tetapi kualitasnya rendah (dan lebih tak berarti lagi manakala sudah jumlahnya tidak cukup, kualitasnya rendah lagi). Hal ini berarti bahwa program pendidikan guru disamping harus memperhatikan jumlah guru yang diperlukan, juga bersamaan dengan itu harus memperhatikan peningkatan kualitasnya.

Untuk memperoleh calon-calon guru yang baik, maka calon-calon yang ingin masuk sekolah guru hendaknya diseleksi berdasarkan kemampuan dan minatnya. Sekolah guru –terutama untuk menjadi guru di Sekolah Dasar- kurikulumnya dirancang lebih ditekankan pada ”penampilan guru” baik ketika berada di depan kelas, di sekolah, di dalam kehidupan pribadinya maupun di dalam masyarakat.


Banjarbaru, Desember 2007

AHMAD KUSASI